Etika Tongkrongan Berdasarkan Sunnah Rasul saw

Please log in or register to like posts.
etika tongkrongan berdasarkan sunnah

Bloggersiana.com – Pada kesempatan kali ini kita akan membahas sebuah artikel tentang etika tongkrongan berdasarkan berdasarkan sunnah Rasul saw. Sebagai seorang muslim, kita memiliki seorang suri tauladan sempurna yaitu baginda Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu sangat pantas apabila dalam setiap perilaku kita merujuk pada perilaku Nabi Muhammad saw. Mari kita lihat beberapa riwayat yang menjelaskan tentang etika tongkrongan berdasarkan sunnah Rasul saw.

Setiap tongkrongan dan setiap perkumulan orang-orang, baik itu majlis ilmu, majlis, do’a, maupun majlis qodlo, kesemuanya memiliki etika yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah saw. Di antara etika-etika tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Disunatkan untuk melapangkan tempat majlis
  2. Dilarang duduk atau nongkrong di depan atau di samping jalan umum
  3. Disunatkan untuk berkumpul di majlis bersama orang-orang soleh
  4. Menjauhi majlis yang bahasan obrolannya melupakan kepada Allah
etika tongkrongan berdasarkan sunnah
Rekomendasi Bloggersiana:

Etika tongkrongan berdasarkan sunnah dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis-hadisnya.

Hadis pertama diterima dari Abu Said al-Khudri dan diriwayatkan oleh Abu Dawud

خير المجالس أوسعها

Artinya: Sebaik-baiknya majlis (tempat berkumpul) adalah yang paling luas

Kandungan Hadis

Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya bahwa jika kita ingin melakukan perkumpulan maka pilihlah tempat berkumpul yang paling luas agar semua anggota majlis dapat duduk dengan nyaman.

Hadis kedua diterima dari Abu Said al-Khudri diriwayatkan oleh Imam Muslim

قال: إياكم والجلوس في الطرقات قالوا: يا رسول الله ما لنا بد من مجالسنا نتحدث فيها قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإذا أبيتم إلا المجلس فأعطوا الطريق حقه قالوا: وما حقه؟ قال: غض البصر وكف الأذى ورد السلام والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

Artinya:

Rasul saw bersabda: Janganlah kalian duduk di samping/di depan jalan. Para Sahabat bertanya: Ya Rasulallah, kami tidak punya lagi tempat berkumpul untuk mengobrol (selain di samping jalan)? Rasul saw menjawab: Maka jika kalian enggan (berpindah) kecuali di majlis ini, maka berikanlah hak-hak jalan. Para Sahabat bertanya lagi: Apa hak jalan tersebut? Rasul saw menjawab: menundukkan pandangan, menyingkirkan sampah, menjawab salam, memerintah yang baik, dan melarang yang munkar.

Kandungan Hadis

Hadis ini berkaitan dengan poin nomer dua di atas bahwa membuat tongkrongan atau riungan di jalan itu adalah sesuatu yang dilarang. Namun Rasul masih memberi keringan untuk larangan tersebut. Keringan bagi orang yang memang ingin mengobrol dan berkumpul di samping jalan maka mereka harus melakukan lima hal: menundukkan pandangan, membersihkan sampah atau kotoran di jalan, menjawab salam, amar ma’ruf, dan nahi munkar.

Hadis ketiga diterima dari Abu Musa diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim

إنما مثل الجليس الصالح والجليس السوء كحامل المسك ونافخ الكير فحامل المسك إما أن يحذيك وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحاً طيبة ونافخ الكير إما أن يحرق ثيابك وإما أن تجد منه ريحاً خبيثة

Artinya:

Sesungguhnya perumpamaan kawan majlis orang soleh dengan kawan majlis orang yang tidak soleh itu seperti orang yang membawa misik (jenis parfum) dan orang yang meniup song-song. Orang yang membawa misik itu ada kalanya memberikan (misik) kepadamu, atau kamu membeli misik itu, dan juga ada kalanya kamu mendapatkan bau yang harum ketika bertemu dengannya. Sedangkan orang yang meniup song-song (perapian) ada kalanya dia membakar bajumu dan ada kalanya kamu mendapatkan bau buruk (asap) ketika bertemu dengannya.

Kandungan Hadis

Hadis ini mengajarkan kepada kita agar kita memilih kawan dan berkumpul dengan orang-orang yang soleh. Karena bisa jadi kita terbawa soleh oleh kebiasannya. Sedangkan jika kita berkumpul dengan orang-orang yang tidak soleh maka sama saja seperti kita berkumpul dengan seorang pandai besi. Kita mungkin bisa terkena apinya atau setidaknya kita akan mendapatkan bau yang tidak segar dari asapnya.

Hadis keempat diterima dari Abu Musa diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi

ما جلس قوم مجلساً لم يذكروا الله فيه ولم يصلوا على نبيهم إلا كان عليهم ترة يوم القيامة فإن شاء عذبهم وإن شاء غفر لهم

Artinya:

Tidak lah suatu kaum berkumpul yang didalamnya tidak mengingat Allah dan tidak bersolawat kepada Nabi mereka kecuali mereka akan mendapatkan kerugian pada hari kiamat. Jika Allah menghendaki maka mereka bisa disiksa dan jika Allah berkehendak (lain) bisa saja mereka diampuni.

Kandungan Hadis

Hadis ini menjelaskan poin keempat pada etika tongkrongan berdasarkan sunnah Rasul saw. Rasul menasehati kita agar pada setiap perkumpulan kita itu mengingatkan kita kepada Allah dan juga tidak melupakan Rasulullah saw. Karena jika saja kita melupakan Allah dan Rasul-Nya, maka kita akan mendapatkan penyesalan atas perkumpulan yang kita lakukan dan akan mendapatkan kerugian di hari kiamat.

Semoga bermanfaat.

Nobody liked ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *